![]() |
| Dedi AZ dan Hasan usai melapor di Polres Lombok Tengah. |
LOMBOK TENGAH - Dedi Afriadi Zulkarnaen dan Hasanudin warga Dusun Mengkudu Lauk,Desa Landah, Kecamatan Praya Timur meminta perlindungan Polres Loteng, sekaligus melaporkan Jaelani dan koleganya yang diduga telah menggergah lahannya.
Tidak hanya itu, kadatangan Dedi dan Hasan ke dua kali itu, untuk menanyakan sejauhmana Polres Loteng menindaklanjuti laporan atas kasus dugaan penggergahan dan pengrusakan lahan sebelumnya. Sehingga Dedi AZ dan Hasan akan melangkah ke Polda NTB jika Polres Loteng tidak mengindahkan laporannya itu.
Saat di Polres Loteng, Hasanudin selaku ahliwaris dari Kimbang yang merupakan pemilik lahan, mengatakan penggeragahan lahan dan pengerusakan tanaman miliknya yang dilakukan oleh Jaelani dan koleganya sudah dua kali terjadi.
Bahkan pada penggeragahan pertama, dirinya langsung melaporkan hal itu ke Polres Lombok Tengah tepatnya pada tanggal 24 Desember 2020, Nomor: STTLP/598.a/ XII/2020/NTB/Res.Loteng dengan pelapor atas nama Kimbang, dan terlapor Kemban Hadi alias Amaq Wawan. Namun sampai saat ini tidak ada tindaklanjut dari Polres Loteng.
Penggeragahan dan perusakan tanaman itu terjadi lantaran Jaelani dan koleganya mengklaim bahwa tanah yang di tempatinya dengan luas sekitar 1,27 hektar diklaim Jaelani. Padahal tanah itu sudah diperkarakan dan bahkan hasil putusan dari pengadilan sudah keluar dengan memenangkan pihaknya.
"Iya memang dulu sudah saya laporkan yang bersangkutan ke Polres Loteng dan sempat saya dipanggil untuk dimintai keterangan. Tapi sampai saat ini belum ada kejelasan bagaimana hasil laporan yang dulu saya masukkan," ungkapnya, saat ditemui di Polres Lombok Tengah, Senin 15 Februari 2021, seperti dikutip Talikanews.com.
Hasanudin menilai pihak Kepolisian lamban dan terkesan mengabaikan laporannya, sehingga pelaku kembali berani melakukan hal sama di tanah milik orang lain.
"Ini akibat dari lambannya Polisi menetapkan pelaku penggeragahan dan pengrusakan sebagai tersangka. Padahal sudah jelas pelakunya, parahnya lagi, Minggu malam 14 Februari 2021 saya tidak bisa tidur nyenyak karena keselamatan saya terancam. Apakah Polisi tunggu ada korban jiwa dulu, baru akan menetapkan tersangka," ujar Hasan.
Hasan juga menilai Kepala Dusun dan Pemdes setempat terkesan mengabaikan perkara ini sehingga perkara ini terkesan diabaikan.
"Tidak ada tindakan penyelesaian dari Pemdes setempat, malah terkesan membiarkan perkara sehingga tidak ada titik temunya," keluhnya
Hal senada disampaikan Dedi Afriadi Zulkarnaen korban kedua. Dia mengaku, kedatangan ke Polres untuk menanyakan laporan pertama karena belum ada tindaklanjut, sehingga pelaku se enaknya klaim bahkan merusak tanaman miliknya.
"Dulu terlapor hanya melakukan penggeragahan di tanah milik Hasanudin. Anehnya sekarang mau ambil lahan saya dan merusak tanaman saya," kesal Dedi.
Atas tindakan Jaelani dan koleganya itu, dirinya melaporkannya lagi ke Polres Lombok Tengah dengan kasus yang sama.
"Jika Polres Loteng tidak atensi laporan kami ini. Maka, kami akan melangkah ke Polda," tegasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Lombok Tengah AKBP Esty Setyo Nugroho berjanji akan menindaklanjuti semua laporan yang di adukan masyarakat termasuk kasus penggeragahan tanah yang terjadi di Desa Landah.
Hanya saja, kasus ini masuk Tipiring, sehingga tidak serta merta pelakunya harus di tahan karena harus di lengkapi dengan alat bukti yanga kuat.
"Tetap kami proses semua laporan yang masuk tetapi semua itu butuh proses dan pemeriksaan walaupun ini hanya kasus Tipiring, jadi kami mohon kepada semua masyarakat untuk bersabar karena kasus yang ditangani Polres Loteng bukan perkara yang ini saja," katanya.

