Cerpen Romantis : Pembantu Rasa Istri -->

Advertisement

Cerpen Romantis : Pembantu Rasa Istri

Ayo Mataram
Rabu, 08 Mei 2024

 

Ilustrasi.

AYOMATARAM.com - Namanya Siti Julaeha, usia 28 tahun. Ibu muda dengan satu anak. Sepintas kehidupan Leha (panggilannya) nampak normal dan biasa saja. Pasti, tak ada yang  menyangka, Leha ternyata banyak memendam kisah rahasia.


Wanita berparas ayu dan selalu tampil gamis dan berhijab ini, seperti memiliki keinginan yang tak bisa dikendalikannya. Leha tak kuasa menahan diri, setiap kalii kenginan itu muncul begitu saja. 




Apalagi, sudah hampir dua tahun ini Leha hidup sendiri. Ia merantau untuk bekerja di Kota, setelah Kasdi sang suami berangkat menjadi TKI ke luar negeri. Putra, anaknya dititipkan diasuh orangtuanya di kampung halaman.


Selama dua tahun pula, Leha bekerja sebagai ART sekaligus penjaga kios sembako di rumah majikan. Pasangan pak Broto dan bu Nanik sangat baik pada Leha yang dianggap rajin dan selalu telaten melakukan tugasnya.


Siang itu aktivitas berjalan seperti biasa. Leha menjaga kios sembako milik Bu Nanik, majikannya. Yang berbeda, kios sedang sepi pembeli karena hujan sejak pagi tak kunjung mereda. Suasana sejuk dan romantisme rintik hujan membuat keinginan Leha datang.



Leha tak menyadari, ada sepasang mata yang mengawasi ulah dan kegiatan yang sedang dilakukannya sendiri. Angannya terbuai dengan imajinasi yang diciptakan sendiri, sambil duduk bersandar dinding, tangan Leha menyusup dan bergerak di balik gamis merah mudanya.


Mata Leha terpejam, ia menghayati perasaan indah yang mulai melanda hatinya. Sesekali Leha mengeluarkan suara yang terdengar merdu. Tubuhnya bergerak perlahan mengikuti alur cerita dalam alam hayalnya. Leha benar-benar ingin meraih semua keinginannya itu.


Sementara dari balik etalase dagangan, mata Ridwan melebar. Jantungnya berdegup kencang menyaksikan apa yang sedang diperbuat Leha. Niatnya untuk membeli Indomie dan telur, terpaksa ditundanya, akibat pertunjukan yang tengah disuguhkan Leha.


Ridwan baru pulang sekolah. Masih mengenakan seragam putih abunya. Sebenarnya Ridwan mau belanja di kios sembako Bu Nanik. Pingin bikin Indomie telur, karena ibunya di rumah nggak masak, sementara Ridwan sudah merasa sangat lapar siang itu.


Cukup lama Ridwan tercenung di balik etalase kaca, menunggu Leha menyelesaikan kegiatan mandirinya itu. 

Pemuda berwajah tampan itu merasa ikut terpengaruh. Dia merasakan ada sesuatu yang mulai berubah pada dirinya. Ia tak menyangka bisa menyaksikan Leha sedang berbuat seperti itu.


Ridwan hendak melangkah lebih dekat, namun siap kakinya tersandung tabung gas di pintu kios sembako. Ridwan nyaris jatuh tersungkur, untung masih bisa berpegangan pada ujung etalase untuk menjaga keseimbangan dirinya.


Di saat bersamaan, Leha terkejut dengan kehadiran pemuda itu. Ia segera menyudahi kegiatannya dan membenahi semua yang sempat berantakan tadi. Wajah Leha berubah merah dan merona, tak menyangka apa yang dilakukannya dilihat oleh Ridwan, pemuda anak tetangga.




Leha berdiri menghampiri Ridwan di dekat etalase.

Sudah lama kamu wan?? Kok nggak manggil sih?? mbak Leha jadi kaget, kata Leha. Ia berusaha bersikap wajar seolah Ridwan tak melihat apa yang baru saja dilakukannya.

Eh, barusan kok mbak. Ridwan mau beli Indomie satu dan telurnya dua mbak, jawab Ridwan.


Ridwan jadi merasa gerogi. Ditatapnya Leha yang sedang mengambilkan Indomie dan telur untuknya. Ia masih membayangkan apa yang barusan disaksikannya.

Ini Indomie sama telurnya wan, semuanya lima belas ribu ya, ujar Leha. Ridwan menerima dan membayar dengan uang pecahan seratus ribuan.


Kembaliannya ambil saja untuk mbak Leha, kata Ridwan.

Lho kenapa wan??, ini banyak loh kembaliannya, tanya Leha agak bingung.

Ya, anggap saja Ridwan membayar yang tadi mbak Leha perlihatkan, jawab Ridwan seraya tersenyum penuh makna.



Leha seketika merasa malu. Ternyata benar dugaannya, Ridwan sudah lama berada di balik etalase dan menyaksikan semua yang dilakukannya.

Duh, kamu beneran lihat tadi wan??. mbak Leha jadi malu nih, ucap Leha.

Gak apa mbak, wajar kok. Ridwan juga sering begitu kalau sedang ingin, jawab Ridwan seraya berlalu meninggalkan kios sembako Bu Nanik.