![]() |
| Ilustrasi. |
Mungkin Warni memang sudah ditakdirkan menjadi wanita yang selalu patah hati. Meski wajahnya cantik di atas rata-rata perempuan desa, namun nasib percintaannya tak secantik wajahnya.
Tiga kali Warni membina rumah tangga, sebanyak itu juga bahteranya kandas sebelum mencapai keluarga yang Sakinah Mawadah Wa Rahmah.
Pengalaman itu membuat wanita yang kini berusia 38 tahun itu, jadi bersikap apatis. Pintu hatinya sudah tertutup untuk para kaum Adam. Laki-laki, baginya sama saja semua.
Pahit manis membina rumah tangga yang selalu gagal itu, membuat hati Warni beku. Tak ingin lagi tergoda manisnya janji, asmara dan percintaan. Sudah cukup. Iya sudah lelah disakiti dan menelan kecewa.
Kini Warni hanya ingin menyibukan diri dengan bekerja. Dia ingin membahagiakan tiga orang anaknya. Walau anak anak Warni sudah dewasa dan sudah berkeluarga, Warni tak ingin merepotkan mereka.
Tiga tahun lalu, setelah Tinah anak bungsunya resmi menikah dengan Hamdi, Warni memilih merantau ke Kota. Mencari pekerjaan untuk bisa menghidupi dirinya sendiri.
Warni diterima kerja sebagai ART di rumah pasangan majikan yang cukup kaya dan terpandang di Kota. Gaji Warni cukup besar, bahkan bisa disisipkan untuk ditabung dan juga mengirimi anak dan seorang cucunya yang masih balita di kampung halaman.
Dua kali lebaran kemarin, Warni selalu pulkam dengan rasa bangga. Warga desa dan anak anaknya menilai Warni sudah sukses dan berhasil di Kota. Bukan hanya penampilannya yang berubah, Warni juga selalu menyawer rejekinya setiap kali lebaran tiba.
Selama menjadi ART di Kota, pak Hendra dan bu Neni majikannya sangat menyukai Warni. Wanita itu sangat rajin dan cekatan dalam bekerja. Aldi dan Rino, dua anak majikannya juga sangat menyayangi Warni, walau ia hanya seorang ART.
Dari kacamata orang, Warni kini sudah bisa hidup tenang dan bahagia. Sudah bisa move on dari kenangan lama bersama para mantan suaminya. Warni nampak lebih menarik, bergembira, dan selalu tampil bahagia.
Tapi tak ada yang menyangka. Selama tiga tahun bekerja di rumah keluarga pak Hendra, Warni menyimpan banyak cerita. Gaji dan bonus besar yang selalu ia terima, bukan semata honor bekerja sebagai ART biasa. Warni adalah ART istimewa.
Jumadi, pemuda 21 tahun yang sehari-hari menjadi tukang serabutan di rumah pak Hendra, menyaksikan sendiri apa saja yang sudah Warni perbuat dalam mencapai kesuksesannya sebagai ART.
Suatu malam Jumadi menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ketika pak Hendra keluar dari kamar belakang. Sambil melihat ke kanan dan kiri, pak Hendra lalu melintas cepat kembali ke rumah utama.
Otak Jumadi seketika menyelidik, penuh tanda tanya. Ada apa malam-malam pak Hendra ke kamar belakang??. Sebuah kamar ART yang ditempati Warni. Pikiran Jumadi mendadak kacau, jangan-jangan Warni dan pak Hendra menjalin rahasia?.
Hendra Wibawa (45) dan Neni Sasmita (42) adalah pasangan enterpreneur sukses di bidang property. Rumah mereka mewah bagai istana, berlantai dua. Dari pernikahan mereka dikaruniai dua anak laki laki, Aldi (20) dan Rino (18).
Jumadi sudah ikut keluarga itu sejak kecil. Dulunya dia teman Aldi di SD. Tapi karena terbentur biaya, Jumadi hanya sampai tamat SMP. Yatim piatu ini kemudian bekerja di rumah pak Hendra. Tugasnya apa saja, mulai ngurusin burung dan kucing peliharaan majikan, membersihkan tanam dan halaman belakang, cuci mobil, hingga membantu ART di sana.
Jumadi paham benar karakter masing masing majikannya, pak Hendra maupun Bu Neni. Dari luar mereka nampak bahagia dan menjadi pasangan yang sangat serasi. Tapi sesungguhnya rumah tangga majikan itu sudah tidak harmonis sejak lama.
Pak Hendra suka ke hiburan malam dan doyan dengan daun muda. Sedangkan bu Neni pun sama saja, berjiwa sosialita sekali eksis dan doyan sama brondong. Jumadi tahu itu semua, dia sering membuktikan dengan mata kepala sendiri.
Suatu ketika, Jumadi malah seperti dapat durian runtuh ketika majikannya itu bertengkar. Pak Hendra akhirnya keluar dari rumah dan nggak pulang dalam waktu cukup lama. Sedang bu Neni juga mulai sering pulang larut malam.
Malam itu, wanita bertubuh langsing dan cantiknya bagai artis ibukota itu, pulang dalam kondisi sempoyongan. Jumadi membantu Bu Neni masuk rumah utama. Namun saat hendak beranjak meninggalkan majikannya, tangan Bu Neni malah menarik Jumadi.
Warni yang saat itu baru dua bulan kerja disana, sempat terbangun ketika mendengar suara mobil Bu Neni. Ia melangkah ke depan, namun dilihatnya Jumadi sudah memapah Bu Neni ke kamar utama.
Warni kemudian ke dapur untuk menyiapkan air hangat untuk majikannya. Tapi sekian lama di tunggu, Jumadi belum keluar juga dari kamar Bu Neni. Tadinya Warni mau mengetuk pintu kamar, tapi niatnya batal.
Telinganya mendengar ada suara suara aneh di kamar majikan. Kadang suara Bu Neni dan sesekali suara Jumadi, pemuda pekerja serabutan yang sudah lama bekerja di rumah ini. Warni bertanya tanya dalam hati, apakah ini menjadi tugas Jumadi??.
(Bersambung)

